Aktivitas Santri Asrama MASANDA, Seluruhnya Penuh Makna

Kegiatan Ba’da Maghrib Asrama Putra-Putri Kelas 11-12 MASANDA

Ada sebuah paradigma yang berkembang bahwa santri yang menetap di asrama harus lebih unggul dibandingkan dengan santri yang non-asrama. Sebuah paradigma yang tentu tidaklah salah, karena santri yang menetap di asrama mendapatkan pembelajaran lebih banyak dibandingkan dengan yang non-asrama. MASANDA sebagai salah satu pesantren PERSIS yang memiliki asrama, tentu memiliki berbagai macam kegiatan dan program yang berbeda dengan asrama di pesantren lainnya.

Setiap hari Jum’at sampai dengan Rabu, selepas sholat Maghrib santri menuju ruangan kelas untuk kegiatan. Materi yang disajikan beragam, mulai dari fiqh, tahsin, Muhadharah, kajian bahasa arab, tafsir, serta kajian tematik. Pematerinya sendiri merupakan asatidz dan alumni MASANDA. Kegiatan ini dibagi dua, yaitu untuk kelas 10 dan kelas 11-12. Kegiatan ini berakhir menjelang adzan Isya, dan setelahnya santri diminta untuk belajar atau menghafal.

Selain kajian ba’da Maghrib, santri juga mengikuti kegiatan ba’da Shubuh yang biasanya terfokus kepada setoran hafalan al-Quran dan Hadits pilihan. Bahkan beberapa santri asrama memiliki hafalan lebih dari 5 Juz dan puluhan hadits. Salah satu lulusan angkatan ke-16 MASANDA, yaitu Riyan M. Ridwan, merupakan alumni asrama putra yang Insya Allah akan berangkat bulan September 2017 menuju Mesir untuk menimba ilmu di Al-Azhar University.

Sebagai ikhtiar MASANDA untuk menjadikan santri asrama ini lebih unggul juga dengan mulai diberlakukannya peraturan “Seluruh santri asrama diwajibkan mengumpulkan HPnya kepada pembimbing asrama mulai dari Sabtu pagi sampai dengan Kamis sore”. Dengan demikian, santri tidak membagi fokusnya kepada belajar dan smartphone.

Kebijakan Baru MASANDA: Bawa Tempat Minum Ke Madrasah!

Ilustrasi Tempat Minum (Tumbler)

Bumi kita sudah sangat tua umurnya, sekira 4,5 miliar tahun. Usia yang sangat tua bagi planet tempat manusia tinggal. Namun selayaknya manusia yang semakin tua maka akan semakin rentan dengan berbagai penyakit, maka planet bumi juga mengalami hal yang sama. Salah satu “penyakit” yang dimiliki Bumi adalah lapisan ozon yang mulai menipis. Lapisan ozon yang menipis ini disebabkan oleh berbagai pencemaran udara yang dihasilkan oleh manusia.

Selain itu, sikap manusia yang memberikan penyakit kepada Bumi adalah sikap konsumtif manusia itu sendiri. Kini, hampir semua orang memiliki mobilitas yang cukup tinggi, sehingga segala sesuatunya harus serba praktis. Hal ini pula yang membuat berbagai produsen minuman khususnya membuat minuman yang instan atau membuat minuman yang bisa dibawa kemanapun dia berada dengan kemasan plastik. Satu sisi terlihat sebagai sebuah solusi saat orang-orang tak sempat membawa minuman dari rumah, namun juga ternyata bisa menjadi bencana. Lho? Kenapa bisa?

Memang, saat ini, plastik memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hal ini terjadi karena proses pembuatannya yang mudah, harganya yang murah, sifatnya yang mudah dibentuk dan tahan lama, serta kegunaannya yang banyak. Namun demikian, di balik keunggulannya, plastik memiliki efek samping yang besar bagi lingkungan karena sulitnya terurai secara alami. Diperkirakan, dibutuhkan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun agar plastik bisa terurai di alam. Hal ini disebabkan sebagian besar plastik dibuat dari minyak bumi, bahan yang sama yang digunakan untuk membuat bensin dan solar. Plastik merupakan senyawa organik yang terdiri dari rantai atom karbon panjang berulang. Penguraian plastik di alam terjadi melalui radiasi sinar Matahari, panas, kelembaban, dan tekanan di dalam Bumi yang berlangsung sangat lama.

Cara penguraian plastik oleh alam (Sumber: http://anakbertanya.com/mengapa-plastik-tidak-bisa-terurai-dengan-cepat/)

Lebih jauhnya, Indonesia tercatat menghasilkan limbah plastik sebanyak 187,2 Juta Ton pertahun, yang artinya Indonesia menjadi negara penghasil limbah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.

Dengan bahaya yang begitu besar, maka MASANDA melalui kebijakan terbarunya menginstruksikan seluruh santri membawa tumbler atau tempat minum sendiri dari rumah. MASANDA sudah menyediakan air minum di setiap kelas untuk me-refill air minum santri jika habis.Kebijakan ini memiliki beberapa manfaat, yaitu:

  1. Sebagai langkah untuk mengurangi sampah plastik yang jumlahnya semakin banyak setiap harinya
  2. Meningkatkan tanggung jawab santri, karena santri diinstruksikan untuk memasang sendiri galon air minum yang telah disediakan apabila airnya sudah habis. Selain itu, santri juga tentu berkewajiban menjaga aset milik MASANDA tersebut
  3. Santri juga dapat menghemat uang jajan mereka sebesar Rp 3.000/hari. Uang sebesar itu biasanya digunakan hanya untuk membeli air minum saja. Dengan adanya instalasi air minum di MASANDA, santri dapat menghemat dan dapat ditabung untuk keperluan yang lebih penting

Semoga ikhtiar kami bisa menjadikan MASANDA lebih baik lagi dan terus berkembang ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Launching Gerakan BIMA Society dan Serah Terima Sepeda Untuk Santri

Pada hari Kamis, 10 Agustus 2017, Dinas Perhubungan Kota Bandung memberikan tujuh unit sepeda kepada santri MASANDA. Sepeda ini merupakan bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) dari Pertamina. Tujuh unit sepeda ini diberikan kepada Aa Herdiansyah, Ghiyas Azka Al Barodi, Muhamad Agung, Hamzah Najmudin, Miftah Zulfikar, Ahmad, dan Taufik. Serah terima sepeda ini juga sekaligus sebagai peresmian gerakan Bike to Madrasah atau disebut sebagai BIMA.

Acara ini langsung dihadiri oleh perwakilan Dinas Perhubungan Kota Bandung, Bandung Eco Transport, Bandung Boseh Juara, dan Pimpinan Pondok Pesantren Persatuan Islam 110 Manba’ul Huda Bandung. Perwakilan dari Dishub Kota Bandung menyatakan ungkapan syukurnya karena MASANDA telah ikut berpartisipasi aktif dalam mengurangi kemacetan di Kota Bandung melalui gerakan Rindu Menanti, ANTAR (Angkot Pintar), dan gerakan teranyar kali ini, yaitu BIMA. Selanjutnya, Kang Hendro sebagai perwakilan Bandung Eco Transport mengajak seluruh santri khususnya untuk terus memasyarakatkan gerakan bersepeda di Kota Bandung agar senada dengan program bike to school dan bike to work yang diinisiasi oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil.

Galeri pemberian sepeda bisa dilihat di bawah ini

Ngaji Fathul Bari Bareng Santri Edisi Pertama

Dimulai pada hari Ahad, 6 Agustus 2017, kegiatan “Ngaji Bareng Santri” dimulai kembali setiap hari Ahad selepas sholat dhuhur berjama’ah. Kegiatan ini memiliki bahasan rutin setiap Ahad ke 1 dan ke 3, yaitu Bahtsul Kutub Fath al-Bari bi Syarhi Shahih al-Bukhari yang dipimpin langsung oleh Ust. Iing Khaerul Abidin, anggota komite madrasah MASANDA. Kitab Fathul Bari ini sendiri merupakan penjelasan dari kitab hadits yang populer, yaitu kitab Shahih Bukhari.

Ust. Iing Khaerul Abidin, pengisi kegiatan “Ngaji Fathul Bari Bareng Santri”

Pada pertemuan pertama, Ust. Iing menjelaskan tentang biografi Imam Bukhari yang memiliki nama asli Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari. Lahir di Bukhara, Khurasan, pada tanggal 19 Agustus 810 M. Beliau sendiri wafat di Khartank, pada 1 September 870 M. Imam Bukhari sendiri merupakan seorang tuna netra tak lama setelah dilahirkan, namun ibunya berusaha keras dengan terus berdoa kepada Allah agar disembuhkan penyakitnya. Ketika ibunya memimpikan sosok nabi Ibrahim dan ia berkata “Insyaallah anakmu akan sembuh dari kebutaan” dan tak lama dari kejadian itu Imam Bukhari sembuh dari kebutaan.

Imam Bukhari sendiri merupakan seorang anak yang cerdas. Beliau sudah mampu menghafal 30 Juz Al-Quran pada usia 10 tahun, bahkan dalam satu keterangan dikatakan Imam Bukhari hafal 15.000 hadits. Imam Bukhari sendiri berguru ke seluruh penjuru negeri untuk belajar ilmu hadits. Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”

Rapat Persiapan PAKIS 2017

Ahmad Hassan atau Ahmad Bandung atau Ahmad Bangil atau Hassan Bandung lahir di Singapura, 31 Desember 1887 – meninggal di Surabaya, 10 November 1958 pada umur 70 tahun.

Pada hari Sabtu, 5 Agustus 2017, diadakan rapat persiapan Penilaian Tengah Semester ala MASANDA yang sering disebut PAKIS (Pameran Karya Inovasi Santri). Pada edisi ketiga ini, insya allah akan mengambil tema besar “Hari A. Hassan” sebagai tribute kami pada guru besar PERSIS ini. A. Hassan dijadikan tema besar karena peran beliau terhadap perkembangan PERSIS dan perkembangan bangsa Indonesia. Kita tentu mengetahui bahwa Presiden Pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, selalu berkomunikasi dengan A. Hassan, bahkan memilih A. Hassan sebagai guru spiritualnya.

Dengan pertimbangan itulah, tema PAKIS kali ini akan mengangkat A. Hassan sebagai tema besar. Insya allah update PAKIS dan agenda yang akan ditampilkan pada saat PAKIS akan diupdate pada posting selanjutnya.

Suasana rapat persiapan PAKIS 2017