Galeri Kegiatan MASANDA Bulan Februari-April 2018

  1. Masa Ta’aruf (Ma’ruf) PC. Pemuda Persis Buahbatu

Pada tanggal 25 Februari 2018, Pimpinan Cabang Pemuda Persis Buahbatu mengadakan kegiatan Masa Ta’aruf (Ma’ruf) di RKB Lantai 2 MAS/Mu’allimin Manbaul Huda. Ma’ruf ini sendiri merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan Pemuda Persis sekaligus menjadi “gerbang awal” bagi ikhwan yang berkenan dan siap berjihad bersama dalam naungan panji Persatuan Islam. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh santri RG Mu’allimin Manba’ul Huda. Berikut adalah dokumentasi kegiatannya.

2. Pekan Karya Inovasi Santri (PAKIS) 2018: The Spirit of Islamic Golden Era

Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 13-24 Maret 2018. Kegiatan yang mengambil tema The Spirit of Islamic Golden Era ini bertujuan untuk mengarahkan santri agar kembali meraih semangat para ilmuwan muslim yang berjaya dieranya. Kita mengetahui ada beberapa penemuan dari Islam yang sampai detik ini masih dipakai oleh seluruh manusia yang ada di dunia. Tanggal 24 Maret 2018, dilakukan pameran hasil karya santri. Berikut ini adalah keseruan pamerannya

3. Ujian Kelas 12 (Ujian Praktik, USBN, dan UAMBN-BK)

Dimulai pada bulan Februari 2018, santri kelas 12 mulai berjuang menghadapi beberapa ujian yang menjadi salah satu syarat kelulusan. Pada bulan Februari 2018, santri mulai menghadapi ujian praktik. Selama sebulan penuh, santri menghadapi beberapa ujian praktik dari beberapa mata pelajaran, diantaranya Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Arab, Fisika, Kimia, Biologi, Penjasorkes, dan lain-lain.

Dilanjutkan pada hari Senin, 19 Maret 2018, santri kelas 12 lanjut menghadapi Ujian Sekolah Berstandar Nasional atau USBN. Ujian ini berlangsung selama enam hari sampai dengan hari Sabtu, 24 Maret 2018. Beberapa mata pelajaran yang di-USBN-kan antara lain PKn, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, Pelajaran Jurusan (IIS/MIA), dll.

Bulan Maret 2018 diakhiri oleh kegiatan UAMBN-BK, atau Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional Berbasis Komputer. Sebanyak 52 Santri mengikuti ujian yang pertama kali berbasis komputer di lingkungan pesantren. Ujian ini dibagi menjadi dua kloter (pagi dan siang). Setidaknya, ada lima mata pelajaran yang diujikan, yaitu Aqidah Akhlaq, Al-Quran Hadits, SKI, Fiqh, dan Bahasa Arab.

Insya Allah, pada tanggal 9-12 April 2018, santri akan menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Semoga semua santri yang ujian mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan dan dapat mempertahankan kejujuran sesuai dengan keyakinan yang selalu kami tanamkan sejak awal.

4. Hamas April 2018: Bubur Sumsum dan Croissant

Pada tanggal 4 April 2018, seperti biasa setiap Rabu pertama awal bulan, santri Masanda mendapatkan jatah makanan sehat dari MASANDA. Menu bulan ini adalah Bubur Sumsum dan roti croissant. Berikut adalah keseruan kegiatan HAMAS bulan April 2018

Progress Pembangunan RKB Lantai 3 MAS/Mu’allimin Manba’ul Huda

?Memasuki Awal Maret 2018, pembangunan RKB Lantai 3 MAS/Mu’allimin Manbaul Huda Kota Bandung mulai memasuki tahapan pemasangan keramik untuk lantai kelas dan selasar. Pemasangan keramik ini ditargetkan selesai pada akhir bulan Maret 2018.

Adapun progress pembangunan RKB Lantai 3 ini didokumentasikan dalam beberapa foto berikut

Bagi yang ingin berdonasi kembali, bisa melalui empat cara

1. Datang langsung ke MAS/Mu’allimin Manba’ul Huda, Jl. Cijawura Girang IV No. 16 Kelurahan Sekejati Kecamatan Buahbatu 40286

2. Melalui donasi ke rekening BRI dengan norek 0407-01-001532-50-1 a/n MA Manbaul Huda

3. Melalui donasi ke rekening BJB dengan norek 0019486109101 a/n MA Manbaul Huda

4. Melalui donasi ke website https://kitabisa.com/bantumanbaulhuda

Keren, Santri Madrasah Persis Ini Bikin Early Warning System Tsunami

Keren, Santri Madrasah Persis Ini Bikin Early Warning System Tsunami

CIJAWURA, AYOBANDUNG.COM — Sebagai negara yang dikelilingi lautan dan jajaran pantai, membuat Indonesia tak luput dari beberapa bencana alam, seperti gempa bumi atau tsunami.

Beberapa waktu lalu, Jawa Barat sempat diguncang gempa bumi dengan intensitas yang lumayan besar dan berpotensi tsunami.

Berkaca dari hal tersebut, seorang santri Madrasah Mualimin Persatuan Islam (Persis) Manbaul Huda merancang suatu alat “early warning system” atau alat peringatan dini tsunami. “Early warning system” ini dibuat oleh Fahmi Abdul Aziz, santri kelas X IPA.

Berawal saat Abdul Aziz, begitu sapaannya, mengikuti kegiatan praktik kerja siswa di daerah Pameungpeuk, Garut. Bukan sekadar praktik kerja biasa, setiap santri harus membuat suatu alat ataupun penemuan yang dapat bermanfaat bagi warga sekitar.

“Jadi ‘kan waktu itu saya kerja praktiknya di daerah pantai di Pameungpeuk, Garut. Saya lihat kalau di pantai ‘kan rentan terhadap bencana tsunami. Jadi terpikir buat bikin alat early warning system tsunami,” katanya saat ditemui Senin (26/2/2018)

“Early warning system” ini diberi nama Alfa 2. Alat peringatan dini tsunami ini, dirancang secara sederhana. Tapi bukan berarti Abdul Aziz tidak memikirkan secara matang komponen-komponen di dalamnya.

“Komponen-komponen di dalamnya terdiri dari besi, pendulum, resistor, LED, switch, dan beberapa komponen lainnya,” ujarnya.

Bukan cuma membuat alat peringatan dini tsunami saja. Abdul Aziz juga kala itu mengajarkan kepada para masyarakat desa bagaimana cara penggunaannya.

Menurutnya, cara penggunaannya cenderung mudah. “Early warning system” sederhana yang sudah dirakit ini, disimpan di tempat yang jangkauannya tinggi, misalnya di atas lemari.

Kemudian jika ada getaran atau guncangan, maka alat ini akan bereaksi dengan mengeluarkan suara.

Namun saat pembuatannya, ternyata Abdul Aziz mengalami beberapa kali percobaan trial dan error. Dia mengungkapkan, harus beberapa kali mengganti komponen hingga mendapatkan suatu rakitan yang bisa mudah dioperasikan.

“Jadi ketika itu sudah ada prototype nya. Tapi karena terkecoh dengan gambar manualnya. Saya sempat salah masukin komponen,” tuturnya.

Abdul Aziz memang sudah menyukai hal-hal yang berbau elektro serta robotik semenjak dududk di kelas 8. Dia belajar merakit otodidak dengan cara melihat video tutorial dari YouTube.

Selain belajar merakit robotik, dia pun mulai tertarik dengan program atau software di balik robot tersebut.

Dia juga sempat mengikuti kontes robotik yang diselenggarakan di Unikom pada tahun lalu. Sayang, program robot yang dibuatnya belum tembus ke babak selanjutnya.

Sekarang, Abdul Aziz berencana untuk membuat kembali “early warning system” tsunami sebanyak 3 unit namun dengan komponen yang lebih lengkap lagi.

 

SUMBER BERITA: http://ayobandung.com/read/20180226/63/29259/keren-santri-madrasah-persis-ini-bikin-early-warning-system-tsunami

Pesan Perdamaian dari Penghuni Pondok Pesantren untuk Dunia

Pesan Perdamaian dari Penghuni Pondok Pesantren untuk Dunia

Alexandre Pettelier dan Jacques Bertrand bersama santri MAS/Mu’allimin Man’baul Huda saat berfoto bersama

BUAHBATU, AYOBANDUNG.COM – Islam tidak seperti yang diberitakan. Digambarkan kaos, dipenuhi oleh unsur-unsur radikalisme yang membabi buta. Akademisi politik asal Kanada, Alexandre Pelletier dan Jacques Bertrand bersama Madrasah Muallim Persis Man’baul Huda, membawa pesan tersebut untuk dunia.Sebelumnya, Alex mencari informasi soal kebudayaan Islam di Indonesia melalui pelbagai literatur. Hingga akhirnya Alex percaya diri dan siap untuk menyambangi Indonesia di tahun 2013. Kala itu, Alex bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang gerakan-gerakan radikalisme yang ada di Indonesia.

“Saya membandingkan kota-kota di Jawa dan di Sulawesi. Kemudian membandingkan gerakan-gerakan yang ada di Jawa Barat juga di Jawa Timur,” ujar Alex saat ditemui ayobandung di Madrasah Muallim Persis Manba’ul Huda, Bandung, Rabu (21/2/2018).

Setelah itu, Alex mempresentasikan temuan-temuannya kepada pihak universitas. Ternyata, apa yang Alex temukan di lapangan sangat jauh dari bayangan negatif soal Islam.

Alex juga menghubungi Jacques Bertrand, seorang profesor dari Universitas Toronto. Prof Jac – begitu sapaan Bertrand — pun tertarik untuk ikut bersama Alex mendalami budaya Islam. Kebetulan, Prof Jac telah lebih dulu sering berkunjung ke Indonesia sejak Orde Baru. Tak heran jika kemampuan berbahasa Indonesianya terdengar fasih.

Untuk lebih mematangkan lagi niatnya belajar tentang budaya Islam, Alex beserta Prof Jac membuat daftar pesantren-pesantren mana saja yang akan mereka kunjungi saat di Indonesia. Jawa Barat membuat mereka tertarik, hingga Negeri Pasundan itu jadi prioritas kunjungan keduanya.

Selama perjalanan, Alex menemukan sejumlah pesantren yang dinilainya unik. Mulai dari Pesantren Darut Taubah yang berada di tengah kawasan prostitusi, hingga pesantren khusus penderita gangguan jiwa di Tasikmalaya. “Ada juga pesantren di Ciwidey, yang khusus mengajarkan tentang agrobisnis,” ujar Alex.

Sekarang Alex dan Prof Jac berkesempatan untuk mendatangi Madrasah Muallim Persis Man’baul Huda. Santri-santri kreatif di pesantren ini membuat Alex kepincut. Meski namanya pesantren, tapi sistem pengajaran di pesantren yang terletak di timur Kota Bandung ini terbilang modern. Terbukti dari inovasi-inovasi kreatif seperti pembuatan teleskop dari barang bekas, pembuatan video tutorial secara indie, hingga pembuatan robot sederhana.

Belum lagi keramahtamahan para penghuni pondok. Islam mengajarkan perdamaian, dan itulah yang dirasakan oleh Alex serta Prof Jac dalam kunjungan ini.

Bawa Pesan Perdamaian dari Islam untuk Dunia

Dalam kesempatan ini, Alex dan Prof Jac membawa beberapa mahasiswa dari Universitas Toronto untuk ikut serta melihat bagaimana keseharian para penghuni pondok. Sekaligus untuk melihat lebih dekat lagi tentang budaya Islam.

“Tujuan saya membawa mahasiswa agar mereka melihat keadaan yang sebenarnya. Saya kira ini akan menarik untuk mereka yang pertama kali datang ke Indonesia,” ujar Prof Jac.

Prof Jac mengatakan jika kebanyakan mahasiswanya tak tahu banyak soal Indonesia. Mereka juga kebanyakan menganggap bahwa negara yang paling banyak penduduk muslimnya adalah Arab Saudi. Padahal, sebutnya, Indonesia memiliki jumlah kaum muslim terbesar di dunia.

Bahkan, beberapa dari mahasiswanya seringkali mengaitkan Islam dengan aksi teror ISIS. Prof Jac ingin meluruskan soal itu. Sering berkunjung ke Indonesia sejak tahun 1990-an, membuat Prof Jac hafal betul bagaimana budaya Islam yang ada di Nusantara.

Prof Jac memaklumi keterbatasan informasi yang didapat warga Kanada tentang Islam, khususnya di Indonesia. Soalnya mereka hanya melihat berita-berita tak mengenakan soal ISIS.

“Kejadian-kejadian seperti ISIS membuat perspektif terhadap Islam menjadi negatif. Tapi saya bilang ‘mungkin anda kurang tahu’. Padahal, di Indonesia banyak sekali orang-orang Islam yang ramah. Bahkan, mereka lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan Arab,” kata Prof Jac.

Dengan mengajak mahasiswanya untuk bergabung dalam kunjungan ini, ia bisa menjelaskan kepada mereka bagaimana kehidupan di pondok. Kata Prof Jac, kebanyakan orang melihat pesantren sebagai tempat berbahaya. Namun faktanya, pesantren merupakan tempat di mana toleransi sangat dijunjung tinggi.

“Saya tahu mereka memiliki pikiran yang luas. Datang ke pesantren bisa mengajarkan banyak hal. Mereka memiliki toleransi dan nilai-nilai yang sangat dijunjung tinggi,” ucapnya.

Prof Jac juga meminta mahasiswa untuk mempresentasikan apa saja yang mereka dapat selama kunjungannya ke pesantren. Berikut dengan dokumentasi foto-foto kegiatan selama di pesantren.

Bagi Alex, apa yang mereka lakukan bisa dijadikan sebagai salah satu medium untuk menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai dan memiliki toleransi yang tinggi. “Ya ini juga sebagai misi perdamaian. Bukan hanya untuk mahasiswa, tapi juga bagi semua orang,” ujar Alex.

Pesantren sebagai Agen Perubahan dan Perdamaian

Kepala Madrasah Muallim Persis Manba’ul Huda, Rosihan Fahmi menganggap kunjungan dari Kanada ini tak ubahnya hadiah baginya dan penghuni pondok. Mengapa? Soalnya, ia bisa menyuarakan bahwa pesantren bukan cuma tempat untuk mempelajari agama, tapi juga tempat di mana perubahan dan inovasi itu muncul.

“Setiap pesantren pasti ingin mengubah dirinya sebagai ‘pesantren of change’. Dalam hal ini bukan hanya pesantren saya saja, tapi juga pesantren lainnya,” ujar Kang Fahmi, begitu sapaan akrabnya.

Kang Fahmi bukan hanya ingin memajukan pesantren dari segi pendidikan saja. Ada semacam gerakan sosial yang ingin dilakukannya untuk menyampaikan pesan kepada dunia. Bahwa, Islam di Indonesia tidak negatif sebagaimana selama ini diberitakan. “Islam punya banyak aspek yang bisa dilihat,” katanya.

Sebagai perwakilan pesantren, Kang Fahmi siap menerima tamu dari mana pun yang tertarik belajar tentang kebudayaan Islam. “Saya ingin berkontribusi untuk Indonesia. Apalagi yang kita lakukan adalah untuk merubah dunia menjadi lebih baik,” katanya memungkasi.

SUMBER BERITA: http://ayobandung.com/read/20180222/64/29049/pesan-perdamaian-dari-penghuni-pondok-pesantren-untuk-dunia

 

 

Ini Karya Inovasi Santri Madrasah Mu’allimin Persis Manba’ul Huda

Ini Karya Inovasi Santri Madrasah Mu'allimin Persis Manba'ul Huda

CIJAWURA GIRANG, AYOBANDUNG.COM — Ujian tengah semester biasanya menjadi hal yang menakutkan bagi para siswa. Pasalnya dalam ujian semester atau yang sering disebut dengan mid tes, para siswa harus berkutat dengan banyaknya lembar kertas ujian.

Tapi berbeda halnya dengan yang terjadi di Madrasah Mu’allimin Persatuan Islam (Persis) Manba’ul Huda. Madrasah yang terletak di wilayah Cijawura Girang, KOta Bandung ini lebih banyak mengadopsi ujian praktik dalam mid tes.

Sehingga penilaian hasil akhir ujian pun tidak memakai sistem tertulis. Nama programnya adalah PAKIS atau Presentasi Karya Inovasi Santri.

Ujian praktiknya pun bukan lagi sekadar praktikum yang biasa dilakukan di laboratorium. Tapi di Madrasah Mu’allimin Manba’ul Huda ini, para santri diarahkan untuk membuat karya yang dapat memiliki nilai manfaat.

Seperti proyek pembuatan video tutorial yang dikemas dalam DVD. Bermacam video tutorial dibikin secara kreatif oleh para siswa.

Mulai dari tutorial murotal, video tentang langkah pengurusan jenazah, penjelasan tentang ahli waris, juga video yang berisi tentang motivasi. Menariknya video-video tutorial ini, dibikin dalam versi dua bahasa atau bilingual.

Para siswa juga memanfaatkan barang-barang bekas untuk didaur ulang. Salah satu barang daur ulang yang berhasil dibikin karya adalah sebuah teleskop yang terbuat dari pipa paralon.

“Bukan tanpa alasan kami memutuskan penilaian tengah semester dengan menggunakan ujian praktik. Hal ini semata biar menumbuhkan kreativitas dari para siswa,” ujar Neni Santika selaku koordinator PAKIS di Madrasah Mualimin Manba’ul Huda, Rabu (21/2/2018).

Mid tes berbasis praktik ini sudah tahun kedua diadakan oleh Madrasah Mualimin Manba’ul Huda. Para santri pun, menurut Neni, lebih aktif saat diminta untuk mengerjakan proyek-proyek praktikum ini.

Para santri juga diajarkan membuat barang-barang untuk merchandise. Mulai dari gelas bermotif pop-art, gantungan kunci, hingga notebook. Merchandise ini juga sudah mulai diperkenalkan di pasaran saat ada event pendidikan di Arcamanik.

Untuk lebih mengasah kreativitas santri dalam hal menulis, Madrasah Mualimin Manba’ul Huda juga menyediakan fasilitas agar para siswa tertarik untuk belajar menulis. Hal ini tidak sia-sia lantaran ada salah satu santri di sini yang telah menelurkan sebuah buku.

“Namanya Salma Fifeeh. Dia sudah bikin satu buku. Sekarang anaknya sudah kuliah di Malaysia,” tutur Neni.

Bulan depan, Madrasah Mualimin Persis Manba’ul Huda kembali mengadakan PAKIS untuk keempat kalinya. Dalam hal ini, pihaknya telah menentukan tema yang akan diangkat, yakni tentang spirit of Golden Age. Atau kebangkitan ilmuwan-ilmuwan atau penemu-penemu Islam pada masa lampau.

“Nanti anak-anak akan bikin prototype idenya dulu. Setelah itu disambungkan dengan tema besarnya yang terinspirasi dari penemuan oleh tokoh-tokoh Islam,” ucapnya.

 

Sumber berita: http://ayobandung.com/read/20180221/64/29031/ini-karya-inovasi-santri-madrasah-muallimin-persis-manbaul-huda