DAMPAK LIMBAH AIR DETERGEN TERHADAP KESUBURAN TANAH

ABSTRAK

Rubayyi Aulia: Dampak Limbah Air Detergen Terhadap Kesuburan Tanah

Indonesia memiliki tanah yang sangat subur. Tetapi dari masa ke masa, kesuburan tanah telah mengalami penurunan. Banyak yang berpendapat bahwa limbah air detergen ialah salah satu penyebabnya. Maka dalam kesempatan ini, penulis akan melakukan penelitian yang bersifat kualitatif dengan metode penelusuran pustaka. Adapun tujuan karya tulis ini adalah untuk mengetahui kebenaran dari dampak limbah air detergen terhadap kesuburan tanah. Hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa limbah air detergen dapat mencemari tanah. Karena, limbah air detergen mengandung zat yang tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme dan menyebabkan cacing menjadi mati.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena berada di kawasan yang umurnya masih muda. Sehingga di dalamnya terdapat banyak gunung berapi yang mampu mengembalikan permukaan muda yang kaya akan unsur hara.
Tanah yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram, humus dan semacamnya yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman. Jika pertumbuhan tanaman sangat baik maka tanaman dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup, yaitu hewan maupun manusia. Oleh karena itu, kita harus menjaga pertumbuhan tanaman agar dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup.
Namun, menurut hasil penelitian dari UGM yang diterbitkan oleh solopos.com pada tahun 2002 menyatakan bahwa tanah di Indonesia mengalami penurunan pada tingkat kesuburannya. Karena kurangnya pengetahuan, masyarakat Indonesia tidak menyadari penyebab turunnya kesuburan tanah. Penyebab dari turunnya kesuburan tanah tidak hanya berasal dari hasil pembangunan industri tetapi aktivitas rumah tangga juga ikut mempengaruhi hal tersebut. Seperti limbah air detergen dari hasil mencuci pakaian.
Mencuci pakaian menggunakan detergen merupakan kebutuhan pokok bagi setiap rumah tangga di Indonesia. Detergen mudah ditemui di warung-warung kecil, pasar tradisional, minimarket, maupun di supermarket dengan berbagai macam ukuran, jenis, harga dan iklan yang berbeda-beda. Salah satu iklannya ialah dapat memberikan busa yang melimpah.
Menurut sebagian masyarakat di Indonesia, busa yang melimpah dapat menghilangkan kotoran di pakaian dengan cepat. Namun, sebenarnya pemikiran seperti itu salah, busa yang melimpah tidak menjamin kotoran di pakaian akan cepat hilang. Sebaliknya, busa detergen ini akan menjadi limbah yang menyebabkan bakteri-bakteri mati. Jika bakteri mati, maka tanah tidak bisa mengalami proses pembusukan, penguraian zat beracun dan mengakibatkan penurunan pada tingkat kesuburannya.
Oleh karena itu, penulis akan membuktikan hal tersebut dengan melakukan penelitian mengenai dampak dari limbah air detergen terhadap kesuburan tanah dalam sebuah karya tulis yang berjudul “Dampak Limbah Air Detergen Terhadap Kesuburan Tanah.”

B. Rumusan Masalah
Detergen merupakan kebutuhan pokok bagi setiap rumah tangga di Indonesia. Berbagai macam bentuk, ukuran, jenis dan harga yang berbeda-beda. Masyarakat Indonesia beranggapan bahwa detergen dengan busa yang banyak bisa mempercepat hilangnya kotoran di pakaian. Namun, masyarakat Indonesia membuang limbah air detergen sembarangan dan tidak mengetahui dampak dari limbah air detergen tersebut.
Berdasarkan paparan di atas, penulis akan mencoba membatasi penelitian ini dengan beberapa pertanyaan:
1. Apa kandungan dari detergen?
2. Bagaimana cara kerja detergen ditinjau secara kimia?
3. Bagaimana dampak limbah air detergen terhadap kesuburan tanah?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui kandungan detergen.
2. Untuk mengetahui cara kerja detergen ditinjau secara kimia.
3. Untuk mengetahui bahaya dampak limbah air detergen terhadap kesuburan tanah.
D. Metode Penelitian
Dalam kesempatan ini, penulis akan melakukan penelitian yang bersifat kualitatif dengan metode penelusuran pustaka. Maka metode ini mengharuskan penulis untuk mengumpulkan data dengan cara membaca, mempelajari, dan mencatat hal-hal penting dari jurnal ilmiah, hasil penelitian yang berkaitan dengan pembahasan judul ini.

E. Definisi Operasional
Dampak adalah pengaruh kuat yang mendatangkan akibat (baik negatif maupun positif).
Detergen adalah bahan pembersih pakaian.
Limbah adalah sisa proses produk.
Kesuburan adalah keadaan subur (dapat tumbuh dengan baik).
Tanah adalah permukaan bumi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanah
1. Pengertian tanah
Menurut wikipedia, tanah dalam bahasa Yunani adalah pedon, sementara dalam bahasa Latin adalah solum. Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik. Tanah merupakan hasil pelapukan atau erosi batuan induk (anorganik) yang bercampur dengan bahan organik.
Tanah menurut para ahli:
1. J.J. Berzelius (Swedia, 1803), Tanah adalah sebagai laboratorium kimia tempat proses dekomposisi dan reaksi kimia yang berlangsung secara tersembunyi.
2. Friedrich Fallou (1855), Tanah dianggap sebagai hasil pelapukan oleh waktu yang menggerogoti batuan keras dan lambat laun mengadakan dekomposisi.
3. A.S. Thaer (1909), Tanah adalah permukaan planet terdiri atas bahan remah dan lepas yang disebut tanah, yang merupakan akumulasi dan campuran berbagai bahan, seperti unsur-unsur: Si, Al, Ca, Mg, Fe dll.
Jadi, tanah adalah permukaan bumi yang terbentuk karena pelapukan bebatuan yang mengandung berbagai unsur. Tanah juga menjadi tempat proses terjadinya dekomposisi dan reaksi kimia yang berlangsung secara tersembunyi.

2. Kesuburan tanah
Secara umum yang dimaksud dengan kesuburan tanah adalah kondisi atau keadaan dan kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman dengan berbagai komponen yang ada didalamnya seperti biologi, kimiawi dan fisika.
Supaya tanaman dapat memanfaatkan fungsi dan peran tanah diperlukan keadaan tanah yang subur sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanah yang subur memiliki kriteria sebagai berikut:
1. Memiliki lapisan humus tebal
Suatu tanah yang subur dapat diketahui dengan melihat ketebalan bunga tanah atau humus. Semakin tebal maka menandakan tanah tersebut kaya dengan bahan organik dan unsur hara sehingga tanaman dapat menyerap zat hara tersebut sebagai bahan baku untuk melakukan proses fotosintesis. Ketersediaan humus juga sebagai tanda bahwa sistem drainase lahan sekitar yang baik. Humus yang tebal akan meningkatkan daya hisap tanah terhadap air, hal ini disebabkan struktur lapisan humus berongga sehingga memungkinkan air untuk masuk lebih banyak.
2. Memiliki PH yang netral
Tanah yang baik haruslah memiliki tingkat keasaman yang seimbang, perlu diketahui PH normal tanah berada pada kisaran 6 hingga 8 atau pada kondisi terbaik memiliki PH 6.5 hingga 7.5. Tanah dengan tingkat PH yang netral memungkinkan untuk tersedianya berbagai unsur kimiawi tanah yang seimbang.
Itulah kenapa pada kondisi tanah yang terlalu asam perlu dilakukan proses pengapuran yang tujuannya yaitu untuk mengembalikan PH tanah ke kondisi netral. Begitu juga ketika tanah bersifat terlalu basa (>PH 8) perlu diberikan Sulfur atau belerang yang terkandung pada pupuk ZA (Amonium Sulfat). Dengan PH yang netral, tumbuhan akan lebih mudah menyerap ion-ion unsur hara dan menjaga perkembangan mikroorganisme tanah.
3. Memiliki tekstur lempung
Tanah yang subur akan berstruktur lempung yang berfungsi untuk mengikat berbagai mineral sehingga tidak mudah hanyut terbawa air. Namun kadar lempung haruslah normal dan biasanya terletak pada lapisan tanah tengah. Selain itu juga memiliki kandungan pasir yang mencukupi, manfaatnya supaya memungkinkan terjadinya drainase dan air dapat terserap kedalam tanah dengan baik.
4. Kaya dengan biota tanah
Kehadiran sejumlah makhluk hidup berukuran kecil penghuni tanah sebagai tanda bahwa di dalam tanah tersebut tersedia berbagai bahan organik yang juga dibutuhkan mikroorganisme untuk menunjang hidupnya. Contoh dari mikrofauna ialah pemangsa parasit, meliputi nematoda, protozoa, dan porifera. Sedangkan mikroflora meliputi ganggang hijau, ganggang hijau-biru, cendawan seperti jamur, ragi, dan kapang. Selain itu, bakteri aerobik dan anaerobik juga termasuk mikroflora. Bakteri aerobik meliputi Azotobakter, Beijerinkia, Rhizobium dan Azospirillum. Sedangkan bakteri anaerobik meliputi Desulfovibrio. Jadi mikrofauna dan mikroflora berperan sebagai indikator kesuburan tanah.
5. Dapat ditumbuhi berbagai macam tanaman
Salah satu tanda atau ciri suatu tanah dikatakan subur dengan memperhatikan vegetasi yang tumbuh diatasnya. Semakin banyak dan beragam jenis tanaman yang tumbuh maka semakin baik kualitas tanah tersebut. Ibaratnya seperti jika banyak gula maka akan semakin banyak semut, begitulah perumpamaan untuk mempermudah pemahaman mengenai hubungan antara kesuburan tanah dengan vegetasi.
B. Detergen
1. Pengertian detergen
Detergen ialah cempuran berbagai bahan, yang digunakan untuk membantu pembersihan dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Dibanding dengan sabun, detergen memiliki keunggulan antara lain memiliki daya cuci yang lebih baik serta terpengaruhi oleh kesadahan air. (Azhar, 2011)
Secara umum istilah dari detergen digunakan untuk bahan atau produk yang mempunyai fungsi meningkatkan kemampuan pemisahan suatu materi dari permukaan benda, misalnya kotoran dari pakaian, sisa makanan dari piring atau buih sabun dari permukaan benda serta mendispersi dan menstabilisasi dalam matriks seperti suspensi butiran minyak dalam fase seperti air. (Showell, 2006)
Kemampuan detergen tergantung kepada komposisi dari formulanya, persyaratan penggunaan, sifat alami dari permukaan yang akan dibersihkan, sifat dari bahan yang akan dipisahkan. Oleh karena itu, penentuan formula detergen merupakan proses yang rumit karena harus memperhitungkan beberapa hal, seperti kebutuhan pengguna, nilai ekonomi, pertimbangan lingkungan dan kemampuan spesifik yang dibutuhkan supaya fungsi detergen menjadi efektif.

2. Jenis – jenis detergen
Ada dua jenis detergen sebagai berikut:
a) Detergen keras: sulit diuraikan oleh bakteri sehingga menimbulkan pencemaran lingkungan.
b) Detergen lunak: dapat diuraikan oleh bakteri sehingga tidak terlalu menimbulkan pencemaran.
3. Kandungan detergen
Pada umumnya, detergen mengandung bahan-bahan berikut:
a) Surfaktan
Surfaktan (surface active agent) merupakan zat aktif permukaan yang mempunyai ujung berbeda yaitu hidrofil (suka air) dan hidrofob (suka lemak). Bahan aktif ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan air sehingga dapat melepaskan kotoran yang menempel pada permukaan bahan. Secara garis besar, terdapat empat kategori surfaktan yaitu:
1. Anionik: Alkyl Benzene Sulfonate (ABS), Linier Alkyl Benzene Sulfonate (LAS), Alpha Olein Sulfonate (AOS)
2. Kationik: Garam Ammonium
3. Non ionik: Nonyl phenol polyethoxyle
4. Amphoterik: Acyl Ethylenediamines
b) Builder
Builder (pembentuk) berfungsi meningkatkan efisiensi pencuci dari surfaktan dengan cara menon-aktifkan mineral penyebab kesadahan air.
1. Fosfat: Sodium Tri Poly Phosphate (STPP)
2. Asetat: Nitril Tri Acetate (NTA), Ethylene Diamine Tetra Acetate (EDTA)
3. Silikat: Zeolit
4. Sitrat: Asam Sitrat
c) Filler
Filler (pengisi) adalah bahan tambahan detergen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat.
d) Aditif
Aditif adalah bahan suplemen / tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna dst, tidak berhubungan langsung dengan daya cuci detergen. Aditif ditambahkan lebih untuk maksud komersialisasi produk. Contoh: Enzim, Boraks, Sodium klorida, Carboxy Methyl Cellulose (CMC).

4. Cara kerja detergen
Detergen dalam kerjanya dipengaruhi beberapa hal, yang terpenting adalah jenis kotoran yang akan dihilangkan dan air yang digunakan. Detergen adalah surfaktan, yang dapat dihasilkan dengan mudah dari petrokimia. Surfaktan menurunkan tegangan permukaan air, pada dasarnya membuatnya lebih basah sehingga lebih mungkin untuk berinteraksi dengan minyak dan lemak. Detergen modern mengandung lebih dari sekedar surfaktan. Produk pembersih juga mengandung enzim untuk mendegradasi protein berbasis noda, pemutih untuk penghilang warna noda dan menambah daya agen pembersih, dan pewarna biru untuk melawan penguningan.
Seperti sabun, detergen memiliki rantai molekul hidrofobik atau rantai molekul yang tidak suka air dan komponen hidrofilik atau rantai molekul suka-air. Hidrokarbon hidrofobik yang ditolak oleh air, tapi ditarik oleh minyak dan lemak. Dengan kata lain berarti bahwa salah satu ujung molekul akan tertarik ke air, sementara sisi lain mengikat minyak. Air bersabun yang mengelilingi kotoran memungkinkan sabun atau detergen untuk menarik kotoran dari pakaian atau piring dan masuk ke dalam air bilasan untuk selanjutnya dapat dipisahkan.

Gambar 2.1. Cara kerja detergen
Ilustrasi dari:
http://www.tutorvista.com
Air hangat atau panas mencairkan lemak dan minyak sehingga lebih mudah bagi sabun atau detergen untuk melarutkan kotoran dan menariknya ke dalam air bilasan. Detergen mirip dengan sabun, tapi sabun cenderung kurang untuk membentuk buih dan tidak dipengaruhi oleh adanya mineral dalam air (air sadah).
Detergen modern dapat dibuat dari petrokimia atau oleokimia yang berasal dari tumbuhan dan hewan. Alkali dan agen pengoksidasi adalah juga bahan kimia yang ditemukan dalam detergen.
Berikut adalah fungsi molekul ini:
1. Petrokimia/Oleokimia
Lemak dan minyak adalah rantai hidrokarbon yang tertarik dengan kotoran berlemak dan berminyak.
2. Pengoksidasi
Belerang trioksida, etilen oksida, dan asam sulfat adalah salah satu molekul yang digunakan untuk memproduksi komponen hidrofilik dari surfaktan. Pengoksidasi menyediakan sumber energi untuk reaksi kimia. Senyawa ini sangat reaktif dan juga bertindak sebagai pemutih.
3. Alkalis
Kalium hidroksida dan natrium hidroksida digunakan dalam detergen dan juga digunakan dalam pembuatan sabun. Alkali-alkali itu bertindak menyediakan ion yang bermuatan positif untuk mempromosikan reaksi kimia.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Kandungan Detergen
Adapun menurut artikel yang diterbitkan pada scribd.com, zat-zat yang terdapat dalam detergen yaitu:
1. Surfaktan yaitu untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan.
2. Abrasive untuk menggosok kotoran.
3. Substansi untuk mengubah pH yang mempengaruhi penampilan ataupun stabilitas dari komponen lain.
4. Water softener untuk menghilangkan efek kesadahan.
5. Oxidants untuk memutihkan dan menghancurkan kotoran.
6. Material lain selain surfaktan untuk mengikat kotoran di dalam suspensi.
7. Enzim untuk mengikat protein, lemak, ataupun karbohidrat di dalam kotoran.
Menurut Smulders, detergen yang digunakan untuk keperluan rumah tangga dan industri menggunakan formula yang sangat kompleks yaitu lebih dari 25 bahan. Namun secara umum penyusun detergen dikelompokan menjadi empat, yaitu surfaktan, builders, bleaching agent dan bahan aditif.
Komposisi kimia detergen dapat dikelompokkan menjadi 3 kelompok, yaitu zat aktif permukaan (surfaktan) berkisar 20-30%, bahan penguat (builders) merupakan komponen terbesar dari detergen berkisar 70-80% dan bahan-bahan lainnya (pemutih, pewangi, bahan penimbul busa, optical brigtener) sekitar 2 – 8%, dimana surfaktan merupakan bahan pembersih utama dalam detergen.
1. Zat aktif permukaan (Surfaktan).
Surfaktan adalah molekul senyawa organik yang terdiri atas dua bagian yang mempunyai sifat berbeda, yaitu bersifat hidrofobik dan bagian yang bersifat hidrofilik.
Surfaktan dalam air akan mengalami ionisasi membentuk komponen bipolar aktif. Komponen bipolar aktif terbentuk pada kedua ujung gugus aktifnya. Fungsi penggunaan surfaktan dalam detergen untuk menurunkan tegangan permukaan sehingga dapat meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang ber1emak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Ditinjau dari rumus strukturnya, surfaktan dibedakan menjadi 2, yaitu rantai lurus yang dikenal dengan Linear alkil benzeneasulfonat (LAS) dan rantai bercabang yang dikenal dengan alkil benzenasulfonat (ABS). Menurut Connell berdasarkan sifat ionisasi senyawa aktifnya, surfaktan yang biasa digunakan dalam detergen diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok, yaitu :
a. Surfaktan anionik
Surfaktan anionik adalah garam-garam Na dan terionisasi untuk menghasilkan Na+ dan ion aktif permukaan (surface active ion) yang bermuatan negatif. Jadi, jenis ini memiliki sisi permukaan aktif negatif. Kelompok ini merupakan jumlah yang terbesar yang beredar di pasaran karena banyak dipakai untuk tujuan domestik, lebih murah serta stabil dalam air, memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak. Surfaktan yang termasuk dalam kelompok ini umumnya berasal dari persenyawaan sulfonat dan merupakan turunan senyawa hidrokarbon minyak bumi, misalnya ABS (alkyl benzene sulfonates), LAS (linear alkylbenzene sulfonates), etoksisulfat dan alkilsulfat. Surfaktan yang tergolong ke dalam kelompok ini adalah sodium dodecylbenzene sulphonate (SDS).

Gambar 3.1. Struktur dari SDS.
Ilustrasi dari:
https://en.wikipedia.org
b. Surfaktan sintetis nonionik
Detergen nonionik tidak terionisasi dalam air, kemampuan detergen ini untuk larut dalam air tergantung pada kelompok-kelompok dalam molekul detergen. Jenis ini memiliki sisi permukaan positif. Senyawa utamanya yaitu alkil dengan gugus utama ammonium. Etoksilat, tidak berubah menjadi partikel yang bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah dan dapat mencuci dengan baik untuk hampir semua jenis kotoran. Surfaktan yang tergolong jenis ini adalah dialkyl dimethyl ammonium chlorides .

Gambar 3.2. Struktur dari Dialkyldimethylammonium chlorides.
Ilustrasi dari:
http://www.chem.ucla.edu

c. Surfaktan sintetis kationik
Detergen sintetis kationik adalah garam-garam amonium hidroksida (NH40H) kuarterner. Senyawa-senyawa amonium kuartener, berubah menjadi partikel bermuatan positif bila dilarutkan dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan untuk pelembut (softener). Detergen kelompok ini mempunyai sifat yang lebih baik karena kemampuannya sebagai bakterisida, maupun bakteriostatik. Detergen ini harganya lebih mahal, oleh karena itu tidak digunakan untuk keperluan rumah tangga tetapi sebagai desinfektan pada rumah sakit dan hotel. Jenis ini merupakan produk kondensasi alkilfenol atau alkohol lemak dengan etilenoksida.
2. Bahan Penguat (Builder)
Unsur lain dari detergen adalah penguat (builder}, untuk meningkatkan efisiensi surfaktan. Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, selain itu builder juga berfungsi sebagai buffer yang dapat membantu dalam mempertahankan pH larutan.
Builder yang sering digunakan adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolite. Senyawa fosfat dapat mencegah menempelnya kembali kotoran pada bahan yang sedang dicuci. Senyawa fosfat yang digunakan oleh semua merk detergen memberikan andil yang cukup besar terhadap terjadinya proses eutrofikasi yang menyebabkan alga blooming (meledaknya populasi tanaman air). Formulasi yang tepat antara kompleks fosfat dengan surfaktan menjadi kunci utama kehebatan daya cuci detergen.
B. Cara kerja detergen secara kimia
Fungsi utama dari detergen sebagai zat pencuci adalah sifat surfaktan yang terkandung di dalamnya. Surfaktan merupakan molekul yang memiliki gugus polar yang suka air (hidrofilik) dan gugus non polar yang suka minyak (lipofilik) sekaligus, sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari minyak dan air. Surfaktan adalah bahan aktif permukaan, yang bekerja menurunkan tegangan permukaan cairan, sifat aktif ini diperoleh dari sifat ganda molekulnya. Bagian polar molekulnya dapat bermuatan positif, negatif ataupun netral, bagian polar mempunyai gugus hidroksil semetara bagian non polar biasanya merupakan rantai alkil yang panjang.
Surfaktan pada umumnya disintesis dari turunan minyak bumi dan limbahnya dapat mencemarkan lingkungan, karena sifatnya yang sukar terdegradasi, selain itu minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui.
Surfaktan (surface active agents), zat yang dapat mengaktifkan permukaan, karena cenderung untuk terkonsentrasi pada permukaan atau antar muka. Surfaktan mempunyai orientasi yang jelas sehingga cenderung pada rantai lurus. Molekul surfaktan mempunyai dua ujung yang terpisah, yaitu ujung polar (hidrofilik) dan ujung non polar (hidrofobik). Surfaktan dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yaitu surfaktan yang larut dalam minyak dan surfaktan yang larut dalam air.
Kinerja detergen, khususnya surfaktannya, memiliki kemampuan yang unik untuk mengangkat kotoran, baik yang larut dalam air maupun yang tak larut dalam air. Salah satu ujung dari molekul surfaktan bersifat lebih suka minyak atau tidak suka air, akibatnya bagian ini mempenetrasi kotoran yang berminyak. Ujung molekul surfaktan satunya lebih suka air, bagian inilah yang berperan mengendorkan kotoran dari kain dan mendispersikan kotoran, sehingga tidak kembali menempel ke kain. Akibatnya warna kain akan dapat dipertahankan. Jika kotoran berupa minyak atau lemak maka akan membentuk emulsi minyak–air dan detergen sebagai emulgator (zat pembentuk emulsi).
Sedangkan apabila kotoran yang berupa tanah akan diadsorpsi oleh detergen kemudian mambentuk suspensi butiran tanah air, dimana detergen sebagai suspensi agent (zat pembentuk suspensi).
1. Surfaktan yang larut dalam minyak
Ada tiga yang termasuk dalam golongan ini, yaitu senyawa polar berantai panjang, senyawa fluorokarbon, dan senyawa silikon.
2. Surfaktan yang larut dalam pelarut air
Golongan ini banyak digunakan antara lain sebagai zat pembasah, zat pembusa, zat pengemulsi, zat anti busa, detergen, zat flotasi, pencegah korosi, dan lain-lain. Ada empat yang termasuk dalam golongan ini, yaitu surfaktan anion yang bermuatan negatif, surfaktan yang bermuatan positif, surfaktan nonion yang tak terionisasi dalam larutan, dan surfaktan amfoter yang bermuatan negatif dan positif bergantung pada pH-nya.
Komposisi detergen dari penjelasan tentang cara kerja detergen, disimpulkan komponen penting detergen adalah surfaktan. Fungsi surfaktan sekali lagi adalah untuk meningkatkan daya pembasahan air sehingga kotoran yang berlemak dapat dibasahi, mengendorkan dan mengangkat kotoran dari kain dan mensuspensikan kotoran yang telah terlepas. Surfaktan yang biasa digunakan dalam detergen adalah linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat, etoksilat, senyawa amonium kuarterner, imidazolin dan betain. Linear alkilbenzene sulfonat, etoksisulfat, alkil sulfat bila dilarutkan dalam air akan berubah menjadi partikel bermuatan negatif, memiliki daya bersih yang sangat baik, dan biasanya berbusa banyak (biasanya digunakan untuk pencuci kain dan pencuci piring).
Etoksilat, tidak berubah menjadi partikel yang bermuatan, busa yang dihasilkan sedikit, tapi dapat bekerja di air sadah (air yang kandungan mineralnya tinggi), dan dapat mencuci dengan baik hampir semua jenis kotoran. Senyawa-senyawa amonium kuarterner, berubah menjadi partikel positif ketika terlarut dalam air, surfaktan ini biasanya digunakan pada pelembut (softener). Imidazolin dan betain dapat berubah menjadi partikel positif, netral atau negatif bergantung pH air yang digunakan. Kedua surfaktan ini cukup kestabilan dan jumlah buih yang dihasilkannnya, sehingga sering digunakan untuk pencuci alat-alat rumah tangga. Setelah surfaktan, kandungan lain yang penting adalah penguat (builder), yang meningkatkan efisiensi surfaktan.
Builder digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara mengikat mineral-mineral yang terlarut, sehingga surfaktan dapat berkonsentrasi pada fungsinya. Selain itu, builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Yang sering digunakan sebagai builder adalah senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, natrium silikat atau zeolit. Selain dua komponen utama tadi, detergen masih mengandung komponen-komponen lain.
Klaim busa banyak? Pertimbangan banyak busa adalah pertimbangan salah kaprah tapi selalu dianut oleh banyak konsumen. Banyaknya busa tidak berkaitan secara signifikan dengan daya bersih detergen, kecuali detergen yang digunakan untuk proses pencucian dengan air yang jumlahnya sedikit (misalnya pada pencucian karpet). Untuk kebanyakan kegunaan di rumah tangga, misalnya pencucian dengan jumlah air yang berlimpah, busa tidak memiliki peran yang penting. Mengapa dalam pencucian dalam jumlah air yang sedikit, busa penting? Karena dalam pencucian dengan sedikit air, busa akan berperan untuk tetap memegang partikel yang telah dilepas dari kain yang dicuci, dengan demikian mencegah mengendapnya kembali kotoran tersebut.
C. Dampak limbah air detergen terhadap kesuburan tanah
Detergen dapat membentuk banyak busa dalam air dan banyak jenis detergen sulit sekali diuraikan oleh enzim-enzim bakteri pengurai sehingga akan tetap utuh dan berbusa. Limbah detergen yang tidak dapat diurai dalam waktu yang singkat ini menyebabkan penurunan tingkat kesuburan tanah dan juga menyebabkan polusi udara karena baunya yang tidak sedap. Menurut Petra Widmer dan Heinz Frick menyatakan bahwa, detergen terurai dalam hitungan minggu hingga bulanan sedangkan persyaratan ekolabel memberikan jangka waktu peruraian limbah detergen di lingkungan alam hanya dua hari. Selain itu detergen dalam air buangan dapat meresap ke air tanah atau sumur-sumur di masyarakat. Air yang tercemar limbah detergen tidak baik bagi kesehatan karena dapat menyebabkan kanker. Kanker ini diakibatkan oleh menumpuknya surfaktan di dalam tubuh manusia.
Bahan lain yang terkandung dalam detergen adalah filler (pengisi). Filler adalah bahan tambahan detergen yang tidak mempunyai kemampuan meningkatkan daya cuci, tetapi menambah kuantitas. Contoh Sodium sulfat. Sedangkan aditif adalah bahan suplemen atau tambahan untuk membuat produk lebih menarik, misalnya pewangi, pelarut, pemutih, pewarna. Bahan aditif ini sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan daya cuci detergen. Aditif ditambahkan untuk komersialisasi produk atau agar produk dapat menarik perhatian konsumen. Contoh dari aditif adalah enzim, boraks, Natrium klorida, Carboxy methyl cellulose (CMC). Sayangnya diantara zat-zat tersebut ada yang tidak bisa dihancurkan oleh mikroorganisme sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan. Limbah detergen juga menyebabkan pencemaran tanah yang menurunkan kualitas kesuburan tanah yang mengakibatkan tanaman serta membuat cacing menjadi mati. Padahal cacing berfungsi untuk menguraikan limbah organik maupun non organik dan menyuburkan tanah.
Ketika suatu zat berbahaya atau beracun telah mencemari permukaan tanah, maka ia dapat menguap, tersapu air hujan dan atau masuk ke dalam tanah. Pencemaran yang masuk ke dalam tanah kemudian terendap sebagai zat kimia beracun di tanah. Zat beracun di tanah tersebut dapat berdampak langsung kepada manusia ketika bersentuhan atau dapat mencemari air tanah dan udara di atasnya. Berikut merupakan ciri-ciri tanah tercemar:
1. Tanah tidak subur
2. pH dibawah 6 (tanah asam) atau pH diatas 8 (tanah basa)
3. Berbau busuk
4. Kering
5. Mengandung logam berat
6. Mengandung sampah anorganik
Pencemaran tanah mempunyai dampak yang cukup mengkhawatirkan dan dapat menyebabkan gangguan besar dalam keseimbangan ekologi dan kesehatan makhluk hidup. Berikut adalah beberapa dampak buruk pencemaran tanah :
1. Turunnya kesuburan tanah yang berakibat pada menurunnya produktifitas tanah. Tanah yang telah terkontaminasi susah bahkan tidak dapat menghasilkan tanaman yang sehat.
2. Tanah akan kehilangan nutrisi alami yang terkandung di dalamnya. Tanaman juga tidak akan berkembang pada tanah tersebut, yang lebih lanjut akan mengakibatkan erosi tanah.
3. Gangguan dalam keseimbangan flora dan fauna yang berada di dalam tanah.
4. Peningkatan salinitas tanah yang akan menyebabkan tanah tandus.
5. Pada umumnya tanaman tidak dapat tumbuh dan berkembang di tanah tercemar. Namun, jika beberapa tanaman berhasil tumbuh maka tanaman ini akan cukup beracun untuk menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi orang yang dekat atau mengkonsumsinya.
6. Debu beracun adalah efek potensial lain dari pencemaran tanah.
7. Polutan tanah akan membawa perubahan dalam struktur tanah, yang akan menyebabkan kematian berbagai organisme penting di dalamnya. Hal ini juga akan mempengaruhi predator yang lebih besar dan memaksa mereka untuk pindah ke tempat lain setelah mereka kehilangan pasokan makanannya beracun untuk menyebabkan masalah kesehatan yang serius bagi orang yang dekat atau mengkonsumsinya.
8. Debu beracun adalah efek potensial lain dari pencemaran tanah.
9. Polutan tanah akan membawa perubahan dalam struktur tanah, yang akan menyebabkan kematian berbagai organisme penting di dalamnya. Hal ini juga akan mempengaruhi predator yang lebih besar dan memaksa mereka untuk pindah ke tempat lain setelah mereka kehilangan pasokan makanannya.
Jadi, limbah air detergen menyebabkan penurunan tingkat kesuburan tanah atau disebut dengan pencemaran tanah. Pencemaran tanah mengakibatkan tanaman serta cacing menjadi mati. Karena jika cacing mati maka tidak ada yang menguraikan limbah organik maupun non organik pada tanah dan tanah menjadi tidak subur. Pencemaran tanah juga dapat mengganggu segala aktivitas makhluk hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *